Diposting oleh admin pada 26 Maret 2010 16:11:08 WIB
Kategori : Lain-Lain - dibaca 420 kali
Mengembangkan Tradisi Ilmiah GuruJakarta, Para guru harus mengembangkan tradisi ilmiah.

Tradisi ini dibangun dari tradisi membaca sejak dini dan dimulai dari keluarga. Selain itu, guru juga perlu mengembangkan budaya berpikir. Guru juga harus membiasakan dan mencontohkan peserta didik untuk menulis. Tradisi ilmiah guru dikembangkan dengan membaca, berpikir, dan menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan.

Hal tersebut disampaikan Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri Kementerian Pendidikan Nasional (Ka Biro PKLN Kemendiknas) Agus Sartono, mewakili Menteri Pendidikan Nasional, saat membuka Lokakarya Tradisi Ilmiah Guru di Kemendiknas, Jakarta, Rabu (17/3/2010).

"Kita perlu mengembangkan budaya untuk giat belajar untuk mengajar dan belajar sepanjang hayat, mengajar sepanjang zaman. Guru boleh meninggal dunia namun tulisannya akan terus mengajar hingga kiamat," kata Agus.

Agus mengungkapkan, tradisi ilmiah di lingkungan guru dan dosen masih rendah. Hal ini, kata dia, dapat dilihat dari indikator karya ilmiah guru. Dia menyebutkan, dari 2,6 juta guru di Indonesia untuk guru golongan IVB hanya 0,87 persen, guru golongan IVC 0,07 persen, dan golongan IVD 0,02 persen. "Persyaratan untuk naik (ke golongan) IVB tidak hanya cukup dengan mengumpulkan angka kredit mengajar saja, tetapi salah satu komponennya menulis karya ilmiah," ujar Agus.

Sementara, kata Agus, jumlah publikasi ilmiah nasional dosen sebanyak enam persen, sedangkan publikasi ilmiah internasional dosen 0,2 persen. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, kata dia, terus mendorong para dosen untuk melakukan penelitian dengan berbagai program. "Sekarang sedang dipikirkan oleh pemerintah untuk membuat dana abadi pendidikan. Salah satu komponennya adalah untuk riset," ujarnya.

Untuk meningkatkan tradisi ilmiah guru, kata Agus, pemerintah mulai dengan memberikan beasiswa peningkatan kualifikasi S1 dan D4. Selain itu, kata dia, dengan tunjangan serfitikasi diharapkan mendorong guru-guru untuk lebih giat lagi menulis. "Kalau dia (guru) giat menulis maka angka kreditnya akan semakin besar. Dia akan naik pangkat dan kualifikasinya akan semakin baik," katanya.

Ketua UNITWIN-UNESCO Johannes Gunawan menyampaikan, salah satu kondisi guru di Indonesia yang memerlukan pengembangan lebih lanjut adalah kemampuan guru pada umumnya yang belum terbiasa dengan tradisi ilmiah. atau scientific tradition. Sebagian besar guru, kata dia, belum memiliki kompetensi dalam penulisan karya ilmiah. "Hal ini terjadi di berbagai bidang baik tentang substansi keilmuan yang diembannya maupun tentang metode pembelajaran, " katanya.

Penyebabnya, kata Johannes, antara lain karena berbagai keterbatasan yang dihadapi guru, baik dalam mengakses informasi melalui perangkat keras untuk melakukan telurus informasi maupun penguasan metode ilmiah oleh guru. Selain itu, kata dia, masih terdapat kelangkaan berbagai wahana atau pola pengembangan ilmu dan keterampilan guru di mana guru dapat bertukar dan berbagi informasi yang penting bagi peningkatan profesionalismenya.

Johannes mengatakan, UNITWIN-UNESCO, sebagai salah satu UNESCO chair di Indonesia, bertugas mengembangkan hak untuk pendidikan. "Lokakarya ini bertujuan  mengeksplorasi berbagai kesempatan dan kemungkinan untuk membangun dan meningkatkan tradisi ilmiah guru di Indonesia," ujarnya.

Program Spesialis Pendidikan Kantor UNESCO Jakrta, Anwar Alsaid, mengatakan, berdasarkan estimasi Institut Statistik UNESCO, pada periode 2007-2015 dibutuhkan sebanyak 10 juta guru yang harus direkrut hanya untuk pendidikan dasar saja. Hal ini, kata dia, merupakan tantangan yang dihadapi oleh banyak negara di dunia. "Untuk menyikapi gap ini, kita tidak hanya melihat pada kebutuhan dan distribusi guru saja, tetapi juga pelatihan, dukungan, dan kondisi kerja untuk guru," katanya.

Guru Besar Universitas Negeri Jakarta Arief Rachman menyampaikan, kebiasaan-kebiasaan berpikir ilmiah diantara guru perlu dikembangkan. Caranya, kata dia, adalah dengan secara terus menerus membuat penelitian dan karya ilmiah. Dia mengatakan, jikda di SMA ada kelompok ilmiah remaja maka perlu ada kelompok ilmiah guru dan kelompok ilmiah dosen. "Ini semua nanti menghasilkan jurnal-jurnal yang kaya. Kepala sekolah membuat kelompok-kelompok belajar diantara guru," katanya.*** -GIM-
Share/Bookmark
Tulis Komentar
Nama
Email (tidak di publish)
Website
Komentar
 
Kode Unik
 

Agenda

    Pencarian

    Polling

    Bagaimana menurutmu pembelajaran bahasa inggris di smp negeri 2 rembang?





    Shoutbox

    Profil Guru

    Sunarto,S.Pd, Lahir di Sleman pada tanggal 30 Mei 1959 . Saat ini beliau tinggal di : Pandean RT.2 RW.2 Kec. Rembang, Kab. Rembang. Jabatan Wakil Kepala Sekolah mengampu mata pelajaran Bahasa Inggris. CP : 081390910789, email: sun_giar59@yahoo.co.id

    Slide Photo

    WEB BLOG GURU

    Kalender

      Selasa, 07 Februari 2012  
    S M T W T F S
          1 2 3 4
    5 6 7 8 9 10 11
    12 13 14 15 16 17 18
    19 20 21 22 23 24 25
    26 27 28 29      

    Gallery

    Download

    User Statistik


    Pengunjung hari ini 9
    Total Pengunjung 8521

    Hit hari ini 36
    Total Hit 106876

    Pengunjung Online 2

    Support

    Muntoha