You need to enable javaScript to run this app.

Hentikan Bully, Agar Tak Menyesal Nanti Oleh: Yezlia Grace Fasha

  • Rabu, 15 Februari 2023
  • Literasi
  • admin
  • 0 komentar
Hentikan Bully, Agar Tak Menyesal Nanti Oleh: Yezlia Grace Fasha

  Kata bullying sudah tak asing lagi bagi kita. Saat menyaksikan tayangan di televisi atau media sosial, kita akan melihat berbagai kasus terkait bullying, baik yang menimpa anak kecil, remaja, maupun dewasa. Maraknya kasus bullying ini dipengaruhi banyak faktor dan melibatkan berbagai pihak untuk mengatasinya. Keterlibatan berbagai pihak yang saling bahu membahu ini bisa mengurangi kasus bullying dan mencegah bibit-bibit bullying mulai dari kasus kecil hingga menggurita.

   Khusus terkait anak, KPAI (Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia) mencatat bahwa kasus korban kekerasan pada anak terkait kekerasan fisik, psikis, dan seksual mulai dari tahun 2016 hingga 2020 mencapai 2.390 kasus, belum termasuk data korban yang tidak melapor ke KPAI. Anehnya, kasus ini terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Data ini memberikan gambaran bahwa kasus kekerasan pada anak seringkali terjadi diluar lingkungan kita, bahkan di sekitar kita sendiri.

   Berbagai kasus bullying pada anak tersebut seharusnya menyadarkan kita tentang kepedulian terhadap lingkungan sekitar, terutama terkait anak-anak di bawah umur atau yang masih berstatus belajar di sekolah (pelajar). Pada sisi yang lain, kasus bullying seringkali terjadi di  lingkungan sekolah dan pelakunya adalah teman seumuran. Bentuk bullying ini dapat berupa penindasan, pemalakan, diskriminasi, atau mengasingkan si korban dari lingkup pertemanannya.

Sebenarnya apasih bullying itu?

   Bullying adalah perlakuan sekelompok orang kepada orang atau kelompok lain dengan tujuan membuat korban menderita. Zaman sekarang, bullying tidak hanya melalui kekerasan fisik, namun juga verbal. Dimana, perilaku ini dapat menganggu kesehatan mental/psikologi korban. Melalui verbal, pelaku bullying biasanya memberikan ejekan yang membuat korban merasa terkucilkan. Hal itu juga merampas kepercayaan diri si korban. Pelaku bullying biasanya adalah orang-orang yang merasa dirinya paling berkuasa. Umumnya, tujuan mereka hanyalah untuk memuaskan keinginan diri (ego). Tapi tak jarang, ada juga hal lain yang mendasari perilaku bullying. Seperti kurangnya perhatian orang tua, mencari perhatian, dan juga meniru adegan di televisi. Adanya kecanggihan teknologi membuat tindakan bullying semakin beragam jenisnya. Bahkan hanya dengan meninggalkan komentar di media sosial, kita bisa melakukan tindakan bullying. Tindakan ini disebut cyberbullying.

Apa hal yang mendasari bullying?

   Sedikit disinggung diatas, rasa egois untuk melihat sesama menderita adalah alasan klasik seorang pelaku bullying. Hal lain yang mendasari perilaku bullying yaitu kurangnya perhatian orang tua kepada anak. Perhatian kepada anak sangat diperlukan untuk mengontrol anak dalam pergaulannya. Ini juga berdampak pada faktor selanjutnya yang mendasari bullying. Yaitu meniru adegan yang dilihat anak, entah dalam televisi ataupun media sosial. Jika orang tua kurang memperhatikan anaknya, maka otomatis mereka juga tidak bisa mengontrol anak sepenuhnya. Media sosial ini sangat luas. Sangat diperlukan adanya kontrol/filter pada anak. Agar anak mengkonsumsi konten, berita, artikel, dan lain-lain, yang sesuai dengan umurnya. Media sosial ini sangat berbahaya jika tidak bijaksana dalam menggunakannya. Hal sekecil apapun bisa berdampak bagi siapapun yang melihatnya. Adanya dampak buruk bagi anak lewat media sosial terdengar sampai ke pemerintah. Memang, pemerintah sudah mengambil tindakan untuk memblokir video, berita hoaks, atau konten yang berbau bullying. Namun siapa sangka, masih banyak bullying yang diwujudkan ke dalam hal-hal sederhana, yang bahkan tidak kita kira. Contohnya saja, game. Mungkin lucu kedengarannya, namun kenyataanya tak sedikit kasus bullying yang berdasarkan pada game.

Lantas, apa tujuan bullying?

   Seperti yang telah disebutkan diatas, tujuan bullying pada umunya hanyalah untuk memenuhi kepuasan diri. Orang-orang yang melakukan bullying biasanya adalah orang-orang yang merasa dirinya paling benar, paling berkuasa, dan bisa mengendalikan temannya yang lain. Sebenarnya sederhana, keinginan mereka hanya untuk melihat temannya yang lain tertekan, ditertawakan, menderita, dan dihantui ketakutan. Hal ini sangat perlu diperhatikan. Karena dampaknya  bukan  hanya bagi korban bullying tapi juga bagi pelaku bullying kedepannya.

Apa akibat dari tindakan bullying?

   Jelas, yang pertama adalah rusaknya mental/psikologis korban bully. Ini bisa disebabkan karena tekanan dan ketakutan pada pelaku bullying. Peristiwa bullying yang dialami juga akan membekas sampai ia dewasa. Bahkan parahnya, bisa jadi trauma. Adanya tekanan yang terlalu tinggi juga bisa mengakibatkan remaja hilang akal. Anak seusia remaja masih sangat labil dan belum bisa berpikir panjang, jauh ke depan. Bisa dibayangkan, apa yang terjadi bila anak terdesak dalam keadaan, selalu ketakutan setiap saat? Ya, hal yang bisa terjadi adalah bunuh diri. Motivasinya hanyalah untuk keluar dari ketakutannya, tekanan hidup, dan berhenti dari kejaran pelaku bullying. Ia hanya ingin keluar dari semua itu. Sekarang, mari pikirkan. Apakah tidak sayang, seorang remaja yang masih punya jalan panjang dan masa depan harus berakhir hidupnya hanya karena tindakan bullying?

   Akibat juga tidak hanya dirasakan si korban, tapi juga pelaku. Jika sikap bullying terus dibiarkan, maka akan semakin menjadi-jadi, dan berbahaya untuk kehidupan pelaku kedepannya. Dari

   kecil saja sudah bisa membully, apalagi jika sudah dewasa nanti? Ia akan menjadi pribadi yang buruk dan sulit diterima masyarakat. Sebenarnya jika kita mau membahas sedikit lebih dalam, penting sekali adanya tindakan mencegah bibit-bibit kasus bullying. Karena, bila ada seorang pelaku bully yang dibiarkan tindakannya, ia bisa saja mengajak temannya yang lain untuk melakukan hal yang sama. Kecenderungan anak adalah bertindak sebelum berpikir. Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Apakah benar atau tidak, mereka tidak peduli. Yang jelas, mereka hanya ikut-ikut saja.

   Ada nggak sih keterkaitan bullying dan kependudukan? Jawabannya, ada. Penasaran? Mari kita bahas bersama.

   Masalah kependudukan di Indonesia sangat beragam. Salah satunya tentang jumlah penduduk itu sendiri. Kita tahu, bahwa bullying bisa berakibat pada kematian. Adanya kematian, otomatis menyebabkan berkurangnya penduduk. Mungkin ada yang bertanya, “Loh, kan yang dibully hanya beberapa anak saja, tidak semua. Juga tidak semua korban bully berakhir pada kematian kan?” Ya, memang benar. Tapi, coba kita berpikir jauh ke depan. Katakanlah dalam 1 tahun ada 20 kasus bullying, dan 5 orang diantaranya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Bila ini kita biarkan, tidak mungkin bila korban bunuh diri akibat bullying akan berkurang kan? Justru malah bertambah. Apa bagus kedengarannya bila banyak remaja mengakhiri hidupnya hanya karena ejekan? Jadi pilihannya ada 2, hentikan sekarang senang kemudian, atau biarkan sekarang menyesal kemudian. Mana yang kalian pilih?

Apasih yang bisa kita lakukan untuk mencegah dan mengurangi bullying?

   Sebenarnya ada banyak sekali cara untuk mencegah dan mengurangi bullying. Yang tentunya tidak akan saya bahas semua disini. Saya akan memberikan 3 contoh upaya mencegah dan mengurangi bullying yang saya golongkan dalam kelompok lingkungan. Apa aja tuh? Yang pertama ada lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan yang terakhir adalah lingkungan dunia virtual.

  1. Lingkungan keluarga

   Udah pada tahu kan apa yang mau dibahas disini? Keluarga adalah teman anak yang paling dekat. Bila keluarga saja tidak perhatian, apalagi lingkungan lainnya. Bangunlah komunikasi yang baik dengan saudaramu. Untuk orang tua, sediakan waktu untuk mengobrol dengan anak tentang kehidupannya. Tak hanya sekadar cerita, beri juga pengetahuan tentang bullying.  Biar dia tahu apa yang benar dan apa yang salah. Karena perhatian keluarga, adalah awal  yang baik untuk mengurangi dan mencegah bibit-bibit pelaku bullying.

  1. Lingkungan sekolah

   Kalau denger tentang sekolah dan terkait bullying, pasti pada mikir tentang teman. Hey ingat! Sekolah bukan hanya ada teman saja lho! Tapi juga ada guru. Seperti yang kita tahu, guru adalah orang tua kedua bagi anak. Jadi apa yang dilakukan? Sama seperti orang tua dirumah. Memberi perhatian yang cukup, membangun komunikasi yang baik, bersikap dan bertindak baik agar bisa menjadi teladan. Tak jarang, ada guru yang mengejek  muridnya.  Entah tentang fisik, tentang materi, ataupun yang lain. Kalau guru saja tidak menyadari pentingnya hal itu, uuuu serem ya kalo sampe ditiru muridnya..

   Selanjutnya, teman. Memang kita diajarkan untuk tidak memilih-milih teman. Namun bukan berarti juga, kita harus berteman dengan semua orang. “Hah? Gimana-gimana?”

   Begini, kita harus mempunyai filter buat diri kita sendiri. Maksudnya, kita harus tau mana yang baik dan mana yang buruk. Semua orang mempunyai sisi negatif dan positif. Nah disini tugas anak harus bisa mengambil sisi baik untuk ditiru. Kalau memang belum bisa untuk membentengi diri sendiri dari sisi negatif orang lain, maka bertemanlah dulu dengan orang- orang positif. Bukan berarti juga menjauhi mereka yang banyak negatifnya, tetaplah berteman dengan semua orang. Hanya sekadar mengenal dan tahu namanya tidak apa kan? Jaga diri kita sendiri. Kita yang tahu apa yang kita perlu.

  1. Lingkungan dunia virtual

   Dulu, kata „virtual‟ asing ya buat  kita.  Sejak ada pandemi, semua berubah menjadi virtual. Dunia virtual itu sangat luas. Apalagi jika sudah masuk dalam media sosial. Sama seperti pada pergaulan. Anak juga harus bisa menyaring apa yang ia dapat dan lihat dari media sosial. Karena tidak semua yang ada di media sosial itu baik. Gunakanlah media sosial dengan baik. Jika ingin berkomentar, pikirkan baik-baik. Apa itu pantas atau tidak untuk dipublikasikan secara umum? Tulisanmu yang hanya sekadar ketikan, bisa menjadi sumber kematian seseorang. Berhati-hatilah dan bersikaplah bijak.

   Bagaimana? Sudah tahu pentingnya mencegah dan mengurangi bullying? Saya harap ada kesadaran yang tumbuh dalam hati anda sekalian. Semuanya dimulai dari diri kita sendiri. Cobalah intropeksi diri. Jika sudah bisa mengontrol diri sendiri, maka mulailah dengan orang terdekat. Sangat disayangkan apabila tindakan bully ini semakin marak dan menjadi hal yang wajar. Hentikan mulai sekarang, agar tak menyesal di waktu yang akan datang.

Bagikan artikel ini:
Wiyono,S. Pd.,M. Pd.

- Kepala Sekolah -

Bismillahirohmannirrohim Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh Alhamdulillahi robbil alamin kami panjatkan kehadlirat Allah SWT, bahwasannya dengan rahmat dan karunia-Nya lah akhirnya...

Berlangganan
Banner